Celotehan

Kecerian Tak Terbendung

Pada Hari Minggu Ku Turut Ayah Kekota, Mungkin Bisa saja delman atau mungkin juga tidak duduk dimuka. kebahagian terasa tersandra oleh waktu dan hari, karena kebanyakan dari hari-hari yang ada, hari minggu yang dinanti karena libur sekolah, libur dari pekerjaan kantor. Secarci harapn yang besar untuk beristirahan dan menuai kebahagian dengan keluarga, berkumpul bersama, bermain dengan sibuah hati.

Senang nya dalam hati, bukan tentang lirik lagu yang mesti dilanjukkan, kesenangan itu banyak hal yang mempengaruhi, bisa saja baru saja menyelesaikan utang-piutang, mungkin mendapatkan hadiah dari atasan maupun kado terindah lainnya. apa yang bisa dituangkan tentang keceiran dan kebahagian, jangan diukur semua tentang harta yang dimiliki, tentang kemewahan yang sedang diselami, justru budak yang masih belum merdekan dengan mentuhankan dunia, kegundaan hidup masih saja merintih dengan sakitnya tekanan.

kecerian yang tak terbendung

Melepaskan diri dari belenggu ke tidak puasan sangat sulit, meskiun didajidatnya terdapat koresan yang berwarna kecoklatan, mungkin itu masing-masing saja, namun tidak ada jaminan untuk seseorang yang dianggap setengah tuhan yang bisa angkuh, congkak seolah-olah perkasa dari segala yang ia punya, tanpa disadari tidak bisa memiliki dengan sepenuh hati sekalipun ada hati serasa merintih.

Kasih saja sebuah jawaban yang sebenarnya penting untuk diperdebatkan, kalau masih belum puas, keluar dan hembuskan nafas terakhir untuk mencari kepuasan, terkadang kematian yang tidak lagi menuntut seseorang terkait banyak hal yang masih belum terjama.

Hidup Itu yang begitu adanya, sedih, senang, ,marah dan semua tentang rasa, namun pada moment apapun rasa itu akan kembali seperti semula begitu seterusnya – Simada

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close
%d bloggers like this: