Simada

Inikah Cinta?

Bagi orang yang telah dewasa, atau seenggaknya udah remaja, urusan hati dan perasaan mungkin udah nggak asing lagi, baik itu rasa sayang, kagum, ngefans atau cinta. Tapi gimana dengan anak yang masih berusia 4 tahun. Mungkinkah dibilang cinta balita? Entahlah.. tapi itu yang gue rasa saat itu.

Saat dimana gue melihat seseorang seperti bersinar-sinar, mencarkan pesona yang nggak sanggup gue jelaskan. Dan pesona ini datang dari seorang mbak-mbak jamu keliling. Yups… gue terpikat, seorang balita terpikat mbak jamu usia 20 tahunan, entah ini miris entah sebuah anugrah.
Pertemuan pertama gue dengan si mbak jamu terjadi saat mama berinisiatif membelikan jamu, karna gue sangat susah disuruh minum susu.

“Ma, pedang Mada dimana?” selayaknya anak seusia itu gue sangat suka main pedang-pedangan, meskipun hanya main sendiri, gue udah bahagia meski hanya ngelawan bayangan sendiri. gue berlari nyamperin mama yang sedang beli jamu,

“Coba kamu cari lagi, kan semalam kamu yang main, kamu simpen dimana?”
Gue hanya terdiam terpaku, tak lagi menghiraukan soal pedang yang hilang. Gue udah kejebak pesona waktu ngeliat si mbak membuatkan jamu buat gue. Ada bintang-bintang dimata gue, rasanya begitu bahagia, entah itu wajar atau tidak.

“kamu nggak jadi nyari pedangnya?” tanya mama heran gue masih berdiri di sana.
Bagi gue pedang nggak penting lagi saat ini, karna ada hal yang lebih menarik dari sebuah pedang. Gue hanya senyum-senyum bahagia, menampakkan wajah terimut dan paling tampan gue.
“ini jamunya ganteng, dihabiskan ya” mba jamu menyodorkan segelas kecil jamu
Gue minum tanpa mengalihkan pandangan dari mba cantik itu, gue nggak peduli lagi dengan rasa jamu yang selama ini nggak pernah gue suka. Dan pada detik itu juga gue memutuskan kalau gue harus ketemu dia setiap hari.

Tekat gue emang udah bulat, sebulat tahu bulat digoreng dadakan, tapi kenyataannya bagun pagi adalah kendala terbesar gue. Karna gue sangat suka begadang meskipun masih bocah, mungkin karna gue belum dengar lagunya Rhoma Irama kali ya. Tapi gue harus bisa, demi ketemu mba jamu cantik.
“Ma, minta acis” acis adalah kata yang gue gunakan untuk minta duit ke mama, meskipun gue sampai sekarang belum tau dari mana kata acis itu berasal.

“buat apa?” kata mama heran
“buat beli jamu”
“tadikan udah minum jamu, jamunya besok pagi aja”
“iya belinya besok pagi, minta acisnya dulu”
“ambil di toples di atas lemari TV. Kayak yang bisa bangun pagi aja”
Aku akan membuktikan kalau aku pasti bisa bangun pagi dan bertemu mba jamu.
Malamnya aku sudah mempersiapkan semuanya, tidur lebih awal dan mempersiapkan acis di samping tempat tidurku. Gue berhasil bangun pagi, dengan gaya super cool gue berjalan ke teras menunggu mba jamu lewat. Mama yang saat itu sedang menjemur pakaian heran dengan keajaiban yang terjadi.

Gue duduk manis namun gelisah menanti mba jamu tersebut lewat, dan saat dia lewat dengan panggilan super cute gue
“mba… jamu”

Dan mba jamu akan memberikan jamu manis semanis wajahnya. Hal itu terus gue lakukan tiap pagi, tak ada lagi Mada yang malas bangun pagi. Jika gue gagal membeli jamu tersebut, gue bakal uring-uringan seharian, semuanya bakalan kena amarah gue, pintu kursi, semuanya bakal gue tendang. Karna waktu itu, ketemu mba jamu adalah mood boster gue.

Hingga suatu hari, mba jamu nggak kunjung lewat, gue nunggu dengan sangat gelisah. Hari-hari selanjutnya dia juga nggak datang. Sampai aku mendapat kabar kalau mba jamunya udah pindah ke wilayah lain, disaat itulah aku sadar kalau semuanya sudah berakhir, tak ada lagi mba jamu cantik yang akan menyapaku tiap pagi.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Check Also

Close
Close
Close
%d bloggers like this: