Simada

I’am Free

Meskipun gue suka menolong, tapi gue nggak suka kalau kebebasan gue terenggut. Salah satu hal menyebalkan itu adalah ketika gue disuruh jagain adik gue yang masih bayi, meskipun gue juga terhitung masih kecil pada waktu itu. Saat loe disuruh buat jagain adik, itu artinya waktu main loe jadi berkurang, jelas itu sangat merugikan.

Pagi itu mama nyuruh gue buat jagain adik yang lagi tidur di ayunan bayi. Meskipun gue suka menolong, tapi gue nggak suka kalau kebebasan gue terenggut. Salah satu hal menyebalkan itu adalah ketika gue disuruh jagain adik gue yang masih bayi, meskipun gue juga terhitung masih kecil pada waktu itu. Saat loe disuruh buat jagain adik, itu artinya waktu main loe jadi berkurang, jelas itu sangat merugikan. Pagi itu mama nyuruh gue buat jagain adik yang lagi tidur di ayunan bayi.

“Mada, mama masak dulu ya, kamu jagain adik, kalau ayunannya berhenti, kamu ayunin lagi ya biar adikmu nggak bangun”
Gue sebagai anak kecil yang tak berdaya hanya bisa menuruti perintah itu. Gue ayun terus, terus, dan terus. Kemudian gue ada ide, dan nggak perlu nunggu waktu yang lama buat eksekusi ide gue tersebut.

Ayunannya gue tarik sejauh mungkin, sehinggga ayunannya juga bakal lebih jauh dan lebih lama, jadi gue bakal punya waktu buat pergi main dulu. Tapi sayangnya eksekusi ide nggak berjalan lancar, bukannya berayun lebih lama, adik gue malah jatuh kelempar dari ayunan.

Berhubung gue anak yang gesit dan cepat tanggap, saat hal itu terjadi gue udah nggak ada di tempat kejadian perkara (TKP). Gue kabur ke rumah nenek yang biasa kami panggil Mami. Gue udah nggak tinggal dirumah Mami lagi, tapi kontrakan keluarga gue nggak jauh dari rumah Mami.

Ada hal yang sangat gue suka kalo di rumah Mami, yaitu memompa air di kamar mandi, karna rumah Mami masih menggunakan pompa air tradisional. Suatu kesenangan tersendiri bagi gue saat memompa air. Gue nanya ke Mami gue, apakah hari ini air sudah dipompa, begitu mengetahui belum ada yang memompa, gue langsung buru-buru ke kamar mandi. Sampai disana gue langsung dengan semangat memompa air, sampai nggak kerasa ember pun penuh, tapi energi gue untuk memompa masih banyak, jadi gue terus terusan memompa. Tapi gue nggak puas, karna air tidak kunjung terkumpul, air terus saja mengalir melalui saluran pembuangan.

Kemudia gue dapat ide. Gue tutup saluran air dengan sabut kelapa. Dan rencana gue berhasil dengan lancar, air sudah mulai menggenang dikamar mandi, dan perlahan juga mulai merambat masuk ke dapur. Setelah merasa air cukup banyak, gue menaburkan detergen ke lantai yang penuh air. Kebahagiaan gue makin bertambah saat busa makin banyak bergelimpangan dilantai, tapi tiba-tiba rasa bahagia itu lenyap saat suara mama terdengar mencari gue.“Mi, ada Mada nggak kesini?” tanya mama gue ke mami yang ada diruang tengah.

“ada lagi di kamar mandi, katanya mau mandi”Saat mereka nyampe di kamar mandi, gue lagi-lagi udah berhasil meloloskan diri dari pintu samping, untung insting meloloskan diri gue tinggi. Dan akhirnya gue mendengar teriakan histeris nenek mendapati dapurnya digenangi air dan busa.
Kolong meja makan adalah tempat persembunyian terbaik buat gue yang masih unyu-unyu. Sampai gue ketiduran dan akhirnya bangun karna lapar, saat Mami ngeliat gue sedang makan dengan tenang dimeja makan, dia cuek aja, mungkin dia udah lupa sama kejadian dapurnya yang banjir.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close
%d bloggers like this: