Celotehan

Belajar Menjadi Orang Blo)n

Menjadi orang pintar sudah jelas itu suruhan dari kita masih kecil hingga dewasa, apakah hal tersebut menjadi ketentuan yang mutlak atau hanya sebatas formalitas yang harus dilalui sebagaimana orang hidup kebanyakan.

Sory jundulnya memang menggelikan “Belajar Menjadi Orang Bloon” tapi bukan maksud untuk mengecilkan karena ada juga beberapa buku dengan judul yang ngentrik coba aja cari di mbah google, bisa kan akses mbah google. orang pintar banyak bangat, setiap manusia hidup belajar untuk jadi orang pintar dari kecil belajar banyak hal dari kehidupan baik dipendidikan yang formal maupun non formal. tidak ada habisnya, memang sebagian pemahaman orang lain “untuk menuntut ilmu dari kandungan hingga liat kubur” itu bukan hal yang lucu, karena buat apa juga di tertawakan. tapi ada hal yang juga penting untuk disadari, kalau berbicara lama waktu menuntut ilmu jelas semua orang punya waktu yang berbeda dalam dunia pendidikan, akan tetapi hal tersebut juga tidak berbanding lurus dengan kontribusi yang dilakukan di lingkungan kehidupannya.

“Al kisah sebuah organisasi yang terdiri dari orang hebat, pintar dan juga memiliki title banyak, cuma gelar ke akheratan yang mereka belum miliki, tentu anda tau? jelas gelar tersebut belum dapat disematkan karena masih hidup, lucu ?, Nggak..  ya sudah lah. dalam oraganisasi tersebut tentu anda seorang pimpinannya dan beberap pimpinan kecil lainnya yang membantu. kenapa seorang karena dia pimpinan pucuknya, luar biasa kan ya, orang belum sampai pucuk, pucuknya sudah dipotek (atau dipatahkan hilang dan pucuk tak ada lagi), itu penjelasan dari bahasa potek, hihihi .

Dari sini kisah dimulai pimpinan pucuk itu bisa dipastikan tidak terlalu pintar, loh.. kok bisa?  ya .. kalau pintar mungkin organisasinya tidak berantakan… heheheh,  kenapa bisa dikatakan seperti itu, dalam membangun organisasi pasti dipelopori oleh pendiri-pendiri yang sangat subtasif terhadap kemajuannya oranganisasi, perlua perubahan  besar, setelah usia organisasi terus tumbuh dan berkembang jelas pergantian pimpinan terjadi, dan disini juga sebuah organisasi mulai kehilangan jati diri dan misi bersama yang siusung oleh organisasi tersebut.

Maka ini lah pemimpin baru yang tidak terlalu pintar, namun bisa jadi pemimpin, kalau masalah caranya nantilah kita bahasa, lanjut…. pemimpin pintar ini banyak dibantu oleh orang-orang pintar, para lulusan terbaik dan beranggapan bersih tanpa cacat hukum, wiiihh keren bukan, hebatnya orang dengan jabatan yang tanggung, paling bawah juga bukan tinggi tinggi amat juga bukan.

*Miris , orang hebat ternyata kerjanya aja cuma bisa ngangukin apa kata pimpinan, sederhananya buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau sebatas belajar nganguk doang, situ waras kan..??

*Tragis, Orang yang beranggapan hebat kerjanya hanya sebatas bilang bagus pak, mantap pak dan keren pimpinan, “itu kalau pimpinan lagi share photo bareng keluraga, kolega dan sanak familinya di grup Whatsapp dan lainya.

*Menangis, Mereka bekerja bukan untuk subtansi oraganisasinya, tapi melayani demi kepuasan pimpinan saja, jadi pembantu berdasi dan klimis juga banyak ya. hehehe , sory gw gak ngomongin anda, jujur anda bukan artis dan orang hebat lainnya yang perlu diomongin, ini hanya tulisan “Humanislucu”, yang mengipas sisi yang sangat menarik dari manusia. 

Sudah cukup jelas apa yang diraih, namun kita tidak pernah tau akan ekspenatsi orang lain, toh juga orang lain jadi jangan diurusin, cukup tertawain, simpelkan. anda meras tidak senang dengan bacaan ini, silahkan cabut dari web gw, hehehegak pa-pa kalau besak mau balik lagi. [Baca Juga : Kaya Miskin Itu Terkadang Juga Orang Susah]

“Belajar kalau untuk jadi bodoh itu ada gurunya, belajar untuk jadi orang pintar ada gurunya, makanya janganlah berguru cukup bergurau saja, karena itu hal yang sederhana yang bisa dilakukan- Simada”

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Close
Close
%d bloggers like this: